MITRA KERJA DENGAN JERMAN DAN KOREA

Meeting dengan Mitra Kerja di Hermes Palace Hotel dalam rangka membahas prospek program kerja serta strategi pelaksaan.

KUNJUNGAN CALON INVESTOR ASING

Kunjungan ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi yang dapat di jadikan target untuk investasi di Aceh

DOKUMENTASI LOKASI

Para Investor asing sedang melakukan dokumantasi dilapangan yang bertujuan untuk melengkapi data survey

EVALUASI HASIL SURVEY

Tim Survey Sedang melakukan evaluasi terhadap semua hasil survey yang telang di lakukan dilapangan untuk melakukan persipan lebih lanjut

KUNJUNGAN KERJA

Mitra kerja LSM Adelcom sedang melakukan kegiatan rutin dilapangan dalam rangka pematangan proses persiapan program.

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label program. Show all posts
Showing posts with label program. Show all posts

Monday, 13 June 2011

ADELCOM NGO KEMBANGKAN 1000 EKOR SAPI BALI DI KABUPATEN BIREUEN

Lembaga Swadaya Masyarakat Acheh Democratic Labour Community (ADeLCom-NGO), secara bertahap akan mengembangkan 1000 ekor sapi bali pembibitan yang berlokasi di Gampong Suka Tani Kecamatan Juli Selatan Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, pada areal seluas 500 Ha.

Melalui Program Pengembangan Agribisnis (P2A) di Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh, diharapkan dimasa yang akan datang akan menjadi usaha yang mampu menghasilkan bibit sapi unggul, dalam pelaksanaannya program ini melibatkan langsung kelompok petani ternak sebagai mitra, dengan sistim:


HAK DAN KEWAJIBAN
HAK
Gampong Suka Tani
Mendapat 25% dari total sapi yang dilahirkan oleh sapi induk, yang dihitung setelah potong hak zakat.
Mendapat 50% dari total hak zakat.

LSM Adelcom
Hak atas semua modal yang dikeluarkan.
Hak milik atas lahan yang dihibah.
Mendapat 75% dari total sapi yang dilahirkan oleh sapi induk, yang dihitung setelah potong hak zakat.
Mendapat 50% dari total hak zakat.
Pendapatan Adelcom sebesar 75%, selanjutnya di jadikan sumber dana untuk mengembangkan usaha ini melalui binaan baru.

KEWAJIBAN
Gampong Suka Tani
Menyediakan lahan kepada LSM Adelcom.
Memelihara dan merawat ternak.
Menjaga keamanan lokasi ternak.

LSM Adelcom
Menyediakan modal usaha, untuk Persiapan lokasi, Pengadaan ternak dan lain-lain.
Mempersiapkan manajemen dan metode pelaksanaan.
Mengawasi dan memantau pelaksanaan kegiatan.
Mengembangkan usaha.

JANGKA WAKTU PELAKSANAAN
Dalam jangka waktu yang yang tidak ditentukan.

TENAGA PELAKSANA
Manager Program: Staf LSM Adelcom.
Koordinator Lapangan: Geuchik Gampong Suka Tani.
Humas Lapangan: Perangkat Gampong Suka Tani.
Operasional Lapangan: Staf LSM Adelcom.
Tenaga Kerja: Masyarakat Gampong Suka Tani.

PENANGGUNG JAWAB
LSM Adelcom bertanggung jawab penuh atas keberhasilan Implementasi program.

Untuk tahap awal atau tahun 2011 ini kami rencanakan untuk 200 ekor, 2oo ekor sapi untuk tahap awal bersumber dari bantuan Dinas Peternakan Aceh, hal ini disampaikan oleh Program Manager of ADeLCom-NGO Mr. Syahrizal Husen kepada Geuchik Gampong Suka Tani Kemukiman Juli selatan Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen, program ini murni di prakarsai oleh ADeLCom-NGO, serta menyatakan kesiapannya untuk mencari sumber pendanaan. 
(Divisi Pemberitaan ADeLCom-NGO Junaidi dan Khairul Ifrad).

Saturday, 11 June 2011

PROGRAM KERJA

 
  1. Membantu masyarakat dalam menangani masalah kesehatan secara mandiri.
  2. Memperbaiki kondisi keadilan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup.
  3. Peningkatan kemampuan pekerja melalui kegiatan pelatihan.
  4. Menciptakan Jaminan Kesejahteraan Sosial bagi masyarakat.
  5. Meningkatkan Usaha Ekonomi Produktif masyarakat Aceh, melalui Pemberdayaan ekonomi dan Sosial Keluarga fakir miskin.
  6. Merehabilitasi rumah tidak layak huni di Aceh.
  7. Penataan sarana lingkungan pada permukiman kumuh di Aceh termasuk pengembangan Water Sanitasi (Watsan).
  8. Meningkatkan akses permodalan, melalui pendirian Lembaga Keuangan Mikro (LKM).
  9. Menjaga kelestarian lingkungan hidup.
  10. Peningkatan kondisi perekonomian masyarakat marjinal.
  11. Peningkatan pendidikan dan kesehatan anak-anak miskin.
  12. Membantu produsen yang marginal untuk mendapatkan akses dalam perdagangan yang adil.
  13. Memperkuat basis dan hak-hak politik rakyat untuk meningkatkan partisipasi.
  14. Membangun kawasan permukiman baru untuk mengurangi alih fungsi areal persawahan produktif untuk pembangunan rumah tempat tinggal sehingga berdampak pada penyusutan drastis terhadap areal persawahan yang berakibat kurangnya produksi gabah di Provinsi Aceh, dengan melakukan pencetakan sawah baru melalui pengembangan Transmigrasi Lokal.
  15. Memfasilitasi investor dari dalam dan luar Negeri untuk melancarkan roda perekonomian dalam hal investasi untuk membangun ekonomi masyarakat di Provinsi Aceh.
  16. Mendata kembali pengangguran kelompok umur produktif, pasca konflik dan tsunami serta mencari akses lapangan kerja.
  17. Meningkatkan mutu terhadap komoditi yang dihasilkan oleh masyarakat Aceh, sehingga kualitasnya barang dapat memenuhi standard kebutuhan pasar internasional.
  18. Menciptakan akses pemasaran terhadap komoditi yang dihasilkan oleh masyarakat Aceh, sehingga pemasarannya dapat dilakukan dipasar yang bertaraf internasional.
  19. Melakukan kegiatan penanggulangan bencana.
  20. Melakukan rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana
  21. Menciptakan peluang pekerjaan yang lebih baik bagi masyarakat Aceh.
  22. Memberikan pelatihan – pelatihan bagi masya-rakat Aceh agar mendapatkan ketrampilan yang memadai untuk melakukan aktivitas usahanya, dan dapat bekerja pada pihak lain.
  23. Pendampingan, pembinaan dan memberi pe-nyuluhan bagi masyarakat Aceh, untuk bangkit dan melakukan aktivitas usahanya masing-masing, agar mereka aktif dan kreatif dalam membangun ekonomi mereka sendiri yang mandiri.
  24. Menyediakan akses informasi yang tepat bagi masyarakat Aceh, agar mereka tidak mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

    Friday, 10 June 2011

    PARTNER











    Sunday, 15 May 2011

    ADeLCom-NGO bangun Industry tapioca di Aceh.

    Tapioka adalah tepung dengan bahan baku singkong dan merupakan salah satu bahan untuk keperluan industri makanan, farmasi, tekstil, perekat, dan lain-lain. Menurut Syukri, MA Chairman of ADeLCom-NGO, teknologi pembuatan tepung tapioka pada industri rumah tangga adalah: Singkong dikupas, dicuci, kemudian diparut dengan mesin diesel hingga dihasilkan bubur singkong. Penambahan air perlu dilakukan agar proses pemarutan lebih lancar. Selanjutnya, bubur singkong disaring menggunakan kain kasa dengan mesh 100 - 120. Penyaringan dilakukan dengan menyemprotkan air sedikit demi sedikit melalui pipa-pipa. Hasil saringan diendapkan dalam bak-bak pengendapan sekitar empat jam. Setelah pengendapan dianggap cukup, air yang terdapat di bagian atas dibuang sebagai limbah cair dan tepung tapioka basah yang telah mengendap, yaitu berkisar antara 19% - 25% diambil dan dikeringkan dibawah sinar matahari. Pati yang sudah kering, digiling untuk menghasilkan tepung tapioka yang berkualits baik.

    Singkong (manihot utilissima) disebut juga ubi kayu atau ketela pohon, selain menghasilkan tepung, pengolahan tapioka juga menghasilkan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair. Limbah padat seperti kulit singkong dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pupuk, sedangkan onggok (ampas) dapat digunakan sebagai sebagai bahan baku pada industri pembuatan saus, campuran kerupuk, obat nyamuk bakar dan pakan ternak. Limbah cair dapat dimanfaatkan untuk pengairan sawah dan ladang, selain itu limbah cair pengolahan tapioka dapat diolah menjadi min uman nata de cassava.

    Peluang pasar untuk tapioka cukup potensial baik pasar dalam negeri maupun luar negeri seperti negeri b erasal dari beberapa negara ASEAN dan Eropa.


    ADeLCom-NGO berencana membangun pabrik tapioca dengan kapasitas produksi 400 ton per hari, serta pengembangan lahan ubi kayu seluas 4000 Ha di Aceh, diharapkan mampu menghasilkan bahan baku berupa ubi kayu 16 Ha per hari, untuk menutupi kebutuhan produksi pabrik tapioca, diharapkan pabrik ini mampu menghasilkan tepung tapioca dengan kualitas ekspor, serta akan menyerap tenaga kerja local, sedangkan melalui pengembangan lahan ubi kayu seluas 4000 Ha bermitra dengan 4000 Kepala Keluarga (KK) masyarakat yang memiliki lahan pada wilayah pengembangan, demikian di utarakan oleh Field Manager of ADeLCom-NGO Samsul Kamal melalui kegiatan pematangan dan evaluasi kerja team work ADeLCom-NGO di kantor meeting Room ADeLCom-NGO.
    Chairman of ADeLCom-NGO Syukri, MA melalui E-mail, juga menyampaikan menyangkut dengan anggaran untuk membangun pabrik tapioca dengan kapasitas produksi 400 ton per hari, serta pengembangan lahan ubi kayu seluas 4000 Ha di Aceh, sudah mendapat respon positif dan dalam waktu dekat akan kita tanda tangani Agreemen. (Divisi Pemberitaan ADeLCom-NGO Junaidi dan Khairul Ifrad).

    ADeLCom-NGO kembangkan tanaman industry di Aceh. melalui “Program Pengembangan Agribisnis (P2A)”

    Ditengah hangatnya kegiatan buffer zone untuk kepentingan konservasi atau daerah penyangga serta issue pemanasan global, banyak kegiatan baik yang di prakarsai oleh Pemerintah pusat maupun pemerintah Dearah di Indonesia, sampai saat ini belum tumbuh kesadaran dari berbagai pihak untuk pro aktif menjaga cadangan hutan yang telah hancur, ini semua hanya sebatas kegiatan kampanye yang sia-sia, kami Lembaga Swadaya Masyarakat Acheh Democratic Labour Community (ADeLCom-NGO), mencermati semua kenyataan ini, kami merespon lebih kepada persoalan yang mendasar yang mengakibatkan hilangnya cadangan hutan di Indonesia, ini semua tidak terlepas dari kebutuhan/kepentingan pembangunan di Aceh, sebenarnya tidaklah menjadi persoalan yang menguras banyak energy, hanya keseimbangan antara kebutuhan dengan pencadangan yang harus kita seimbangkan, baik melalui penanaman hutan industry maupun kegiatan penanaman hutan rakyat.

    Dengan penerapan Moratorium Logging di Aceh, kami melihat hanya sikap untuk menghilangkan simpatik rakyat kepada Pemerintah Aceh, kalau kita kaji ulang penerapan ini tidak pernah menjadi solusi, karena pada hakikatnya hutan juga akan habis seiring dengan kebutuhan bahan baku kayu, sudah sangat jelas ini semua merupakan kebutuhan sandang masyarakat Aceh, yang harus kita lakukan tidak lain hanyalah mengembangkan tanaman industry pada lahan-lahan terlantar milik masyarakat.

    Keadaan ini menjadi peluang emas seiring dengan penerapan Program Pengembangan Agribisnis (P2A) di Provinsi Aceh, melalui dana hibah dari Donatur luar Negeri, saat ini kami sedang mensurvey di beberapa Kabupaten yang potensial untuk kita kembangkan tanaman industry jenis Jabon (Anthocephalus cadamba), kita rencanakan secara bertahap akan kita kembangkan 3500 Ha, dengan sasaran mitra yaitu 3500 Kepala Keluarga (KK) atau masyarakat yang memiliki kebun dalam wilayah pengembangan program, kepada masyarakat yang menjadi mitra kita fasilitaskan:
    1. Pinjaman modal usaha.
    2. Pengadaan bibit kakao unggul.
    3. Pendampingan, dan
    4. Pembinaan yang berkelanjutan.
    5. Pemasaran.

    Kita harapkan 3500 KK yang menjadi mitra akan memiliki lapangan kerja baru serta mendapatkan penghasilan yang layak untuk mensejahterakan keluarganya.

    Memang tidak mudah untuk melakukan semua ini, oleh karena itu kami sedang melakukan berbagai persiapan awal yang meliputi:
    1. Survey lahan yang potensial, oleh team survey yang kami datangkan dari luar negeri.
    2. Uji tanah oleh team ahli tanah yang kami datangkan dari luar negeri.
    3. Pemetaan kawasan untuk pegembangan.
    4. Pendataan dan registrasi bagi masyarakat yang menjadi calon mitra.
    5. Agreemen dengan masyarakat yang menjadi calon mitra.

    Setelah semua persiapan ini selesai kita laksanakan, kita adakan evaluasi untuk persiapan lebih lanjut, kami menargetkan pada pertengahan 2012 kita sudah dapat action, hal ini disampaikan oleh Chairman of ADeLCom-NGO Mr. Syukri, MA kepada mitra Donornya dari Korea Selatan melalui kunjungan kerja ke Indonesia (Selasa, 10 May 2011), dan mitra donor menyambut positif atas program yang di prakarsai oleh ADeLCom-NGO, serta menyatakan kesiapannya untuk mendanai melalui penandatanganan Agreemen. (Divisi Pemberitaan ADeLCom-NGO Junaidi dan Khairul Ifrad).

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More